kembali ke home

#KerjaItuMain Tiga Kecintaan dalam Hidup

profilepicture

Nama : Astri Apriyani

02 July 2015

Share
Hidup bagi saya tidak pernah jauh dari menulis, sastra, dan traveling. Mereka adalah kecintaan besar dalam hidup saya. Hingga ketika dewasa, saya ingin belajar tentang kecintaan ini dengan benar. Bukankah menyenangkan, bisa melakukan apa yang kita cintai seumur hidup kita? Saya memulai titik belajar dengan memilih jurusan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia, membekali diri akan ilmu bahasa dan sastra dengan layak. Untuk kemudian, ada keinginan setelah lulus untuk bisa menyampaikan berita kepada masyarakat. Karena itu, saya memilih profesi jurnalis, mulai dari di media kecil seperti AREA Magazine hingga media besar, seperti Intisari Kompas Gramedia. Betapa hidup begitu baik memungkinkan saya bepergian (traveling) untuk menggali berita ke banyak tempat. Hidup sebagai jurnalis saya lakoni sampai lebih dari 7 tahun. Mengajarkan banyak hal, terutama tentang berbicara dengan banyak orang, mendengarkan ragam cerita, sampai pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Hingga suatu hari, saya menyadari bahwa hidup memang adalah soal berkembang, tidak hanya soal bertahan hidup. Lalu, saya ingat pepatah favorit dari Mae West, "You only live once, but if you do it right, once is enough." Rasanya sudah cukup kesenangan di dapur media saya akrabi. Ada keinginan untuk menyelami lagi hal baru yang awalnya seperti hutan rimba yang seram. Ya, saya mulai menjadi pekerja lepas, masih berkisar tentang menulis, tapi kini lebih tidak terikat jam kerja dan lebih banyak bisa menghabiskan waktu untuk traveling. Maka, fase hidup saya selanjutnya adalah menjadi penulis lepas, mulai dari travel writer untuk majalah, kerap menjadi travel blogger yang bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata dan tourism board, penulis naskah iklan, sampai bekerja probono sebagai volunteer untuk kampanye #SaveSharks Indonesia (savesharksindonesia.org), sambil disambi pula dengan berkarya di dunia sastra; menjadi undangan penulis muda Ubud Writers and Readers Festival 2013, dan kini sedang merampungkan novel. Sekali lagi, hidup memang adalah soal berkembang. Kini, saya mulai mencoba untuk menjadi hebat sebagai penulis skenario. Betapa ini adalah profesi yang menyenangkan untuk saya, karena menggabungkan seluruh kecintaan saya--menulis, sastra, dan traveling--dalam satu wadah. Saya dan tim baru saja selesai produksi sebuah film fiksi berlatar belakang sejarah letusan Tambora tahun 1815 berjudul Tambora: The Trail of Ancestor yang syuting di Bandung dan wilayah Nusa Tenggara Barat, seperti Sumbawa, Dompu, Mataram, dan Bima. Sekarang, sedang dalam proses pasca produksi, dan dijadwalkan rilis bulan depan. Ada beberapa naskah film yang sedang saya garap, dan sebagian besar melibatkan perjalanan keliling Indonesia. God is really good. Ia memberikan kesempatan untuk melakukan apa yang saya cintai, dan bisa hidup dari kecintaan tersebut. Dan ya, there's so much we can do in this life. Don't stop playing, don't stop growing! #KerjaItuMain
img1 img2